Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua

Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua

اِنَّ الْحَمْد لله نَحْمَدُهُ وًنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَلِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ ﷲُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ ﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١) 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا .  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ ﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)

أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah ibadah Jum’ah yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,

Diantara amalan yang sangat agung, yang diperintahkan oleh Islam adalah berbakti pada kedua orang tua. Bahkan dalam banyak tempat di Al Qur’an, Allah menggandengkan perintah berbakti pada orang tua dengan perintah mentauhidkanNya. Sebagaimana firmanNya,

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS An Nisa’: 36)

Allah juga berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS Al Israa’: 23)   

Berbakti kepada orang tua dikedepankan daripada jihad. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّالْوَالِدَيْنِ، قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Aku bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Mendirikan sholat pada waktunya,” Aku bertanya kembali, “Kemudian apa?” Jawab Beliau, “Berbakti kepada orang tua,”. Aku bertanya lagi, “Kemudian?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari no. 527 dan Muslim 85)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa ada seorang laki-laki minta izin Rasulullah untuk ikut berjihad, maka beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah memerintahkan kita untuk tetap berbakti bagaimana pun kondisi keduanya, bahkan meskipun keduanya kafir. Allah berfirman,

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS Al Luqman: 15).

Jama’ah rahimakumullah,

Karena begitu agungnya berbakti kepada kedua orang tua kita dapati kisah-kisah luar biasa ‎bakti orang-orang yang terdahulu kepada orang tua mereka. Diantaranya adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia, yang paling banyak meriwayatkan. Abu Hurairah ‎adalah seorang sahabat nabi yang sangat berbakti pada ibunya. Beliau menempati sebuah ‎rumah, sedangkan ibunya menempati rumah ‎ yang lain.

Apabila Abu Hurairah ingin keluar atau masuk rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” (Diriwayatkan Al Bukhari dalam Adabul Mufrod)

Kisah bakti yang lainnya adalah kisah seorang tabi’in yang mulia yang bernama Uwais Al Qarni. Rasulullah belum pernah bertemu dengan Uwais al Qorni ini, tetapi Rasulullah diberitahu oleh Allah tentang baktinya pada ibunya.  Oleh karena itu jika ada kafilah datang dari Yaman, Umar bin Khatthab selalu bertanya apakah bersama mereka ada Uwais Al Qarni. Sampai suatu ketika beliau berjumpa dengannya maka beliaupun mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman, dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn.

Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih tersisa belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.

Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar bin Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah aku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah (agar melayanimu)? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang lebih aku sukai. (HR Muslim)

Begitu juga kisah tiga orang yang terjebak dalam gua yang mana pintunya tertutup batu besar. Maka masing-masing berdo’a dengan amalan baik yang telah mereka kerjakan. Salah seorang diantara berdo’a dan berwasilah dengan baktinya kepada kedua orang tuanya yang telah tua renta. Dia berusaha melayani kedua orang tuanya dan mendahulukannya dari istri dan anaknya.

Suatu saat ia pernah mencari kayu bakar di tempat yang sangat jauh sehingga balik ke rumah terlambat. Ia pun memerah susu untuk orang tuanya tetapi ternyata keduanya telah tertidur. Ia tidak berani membangunkan keduanya dan menunggu sambil tetap memegangi bejana susu tersebut. Sampai fajar menyingsing baru keduanya bangun dan ia pun memberi minum kepada keduanya.  (Lihat HR Bukhari no. 2272 dan Muslim 2473)

Jama’ah Rahimakumullah,

Demikianlah sekilas tentang agungnya berbakti kepada orang tua dan beberapa kisah bakti orang-orang terdahulu. Semoga kita dijadikan sebagai seorang yang berbakti pada kedua orang tua kita dan juga diberi rizki anak-anak yang berbakti. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *